× Daftar Isi Disclaimer Tentang Blog
Menu

Download Soal

Belajar dalam Berbagi, Berbagi dalam Belajar

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Teori Kebiasaan Belajar

Teori Kebiasaan Belajar

Tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menimbulkan suatu kebiasaan. Alwi (2005:146) menyatakan bahwa kebiasaan adalah pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan dilakukannya secara berulang-ulang untuk hal yang sama. Lebih lanjut Susilo (2006:54) menyatakan bahwa kebiasaan timbul karena kecendrungan respon yang berulang-ulang.

Menurut Djamarah dan Zain (2006:57) inti dari pada belajar adalah pengulangan. Hal ini dapat diartikan bahwa untuk mencapai suatu prestasi belajar, maka seorang siswa harus rajin mengulang pelajarannya. Dengan kata lain seorang pelajar yang ingin mencapai hasil belajar yang baik, harus membentuk suatu pola (kebiasaan) sehingga tingkah laku belajar itu efisien. Dalam hal ini Slameto (2003:82) menyatakan bahwa kebiasaan belajar akan mempengaruhi hasil belajar.
Kebiasaan belajar di rumah, pengaruhnya juga terbawa ke sekolah (Djamarah, 2006:2003). Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah, namun memakan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan juga sulit untuk merubahnya. Berdasarkan pendapat Slameto (2003:82) dapat dinyatakan bahwa kebiasaan belajar yang baik itu meliputi: kebiasaan dalam mengikuti pelajaran, kebiasaan dalam membaca buku, kebiasaan dalam memantapkan materi pelajaran, kebiasaan dan kerajinan dalam mengerjakan tugas dan kebiasaan dalam menghadapi ujian.
Disiplin terhadap waktu yang sudah direncanakan untuk belajar merupakan langkah awal untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjana (1994:8) bahwa ornag yang memilki kebiasaan mulai belajar pada waktu yang direncanakan dan dapat belajar pada waktu yang ditentukan maka akan mendapat hasil belajar yang maksimal. Menurut Salameto (2003:82) “buatlah jadwal belajar sehari sebelumnya”. 

Adanya suatu rencana belajar dengan pembagian waktu, maka akan selalu cukup waktu untuk belajar. sebagaimana Suryosubroto (1997:100) menyatakan bahwa “makin lama siswa menggunakan waktu yang sungguh-sungguh untuk belajar, maka makin tinggi tingkat penguasaan terhadap materi yang dipelajari.

Menurut Paul B Diendrich dalam Sardiman (2007:101) disekolah siswa bukan hanya dituntut untuk mendengarkan dan mencatat namun juga aktif. Keaktifan dalam belajar dapat diwujudkan dalam bentuk bertanya,berdiskusi dan menaggapai permasalahan yang ada selama proses pembelajaran (Hasibuan,dkk, 2006:7). Mencatat materi pelajaran yang baik, bukanlah mencatat apa yang diucapkan oleh guru, tetapi mencatat materi tersebut harus berdasarkan pemahaman yang diterima atau berdasarkan bahasa sendiri. Seperti yang dinyatakan oleh Suparno (2001:112). 

Catatan merupakan ikhtisar tentang hal-hal yang essensial yang terdapat dalam bahan bacaan atau pemaparan lisan yang disimak yang mempunyai bentuk yang sederhana. Disamping itu mencatat materi pelajaran hendaklah pada  buku khusus dengan baik, rapi, lengkap dan teratur antara materi yang satu dengan yang lainnya (Slameto,2003:85)

Kebiasaan membaca buku
Membaca memiliki perana yang sangat besar dalam belajar. hamper sebagian besar sebagian aktivitas belajar adalah membaca. Agar dapat belajar dengan baik maka perlu pula membaca dengan baik/efisien. Menurut Zulfi (2008:16) cara membaca buku yang efisien dapat dilakukan dengan strategi PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, and Review). 
Maksudnya seorang siswa yang mempelajari buku biologi, sebelum membaca hendaklah menyelidiki terlebih dahulu tujuan atau gambaran umum mengenai buku tersebut (Preview). Setelah mengetahui tujuan atau gambaran umum buku tersebut baru dipertanyakan tentang tujuan atau gambaran tadi (Question). Setelah dilakukan dua langkah di atas tadi barulah siswa mulai membaca uraian selanjutnya (Read). 
Setelah siswa membacanya  kemudian barulah direfleksikan dengan pengetahuan sebelumnya.  Setelah merefleksikan uraian yang telah dibaca, selanjutnya siswa mengungkapkan kembali pengertian tentang apa yang dipertanyakan sebelum membaca uraian buku tersebut. Dalam mengungkapkan ini hendaknya dengan bahasa sendiri(tidak terpaku pada teks buku). Pengertian-pengertian yang diperoleh, hendaknya diulang-ulangi kembali agar pemahaman pengetahuan tadi benar-benar mantap (Review). Metode membaca buku yang efisien ini perlu dikembangkan (dibiasakan) agar tujuan mempelajari biologi benar-benar tercapai.
Lebih lanjut Gie dalam Slameto (2003:84) kebiasaan-kebiasaan membaca yang baik adalah: memperhatikan kesehatan membaca, ada jadwal, membuat tanda-tanda/catatan-catatan, memanfaatkan perpustakaan, membaca sungguh-sungguh, dan membaca dengan konsentrasi penuh. Disamping mengetahui cara membaca yang baik, kesehatan membaca pun perlu diperhatikan. Menurut Slameto (2003:84) kesehatan membaca meliputi buku yang dibaca kelihatan jelas dengan sinar yang terang, jarak mata dengan buku kira-kira 25-30 cm dan membaca pada meja belajar.

     Kebiasaan memantapkan materi pelajaran
Memantapkan materi pelajaran sebaiknya dilakukan pada akhir jam pelajaran. Ini berarti tidak baik menunda-nunda waktu untuk membaca atau mengurangi pelajaran. Silberman (1996:247) menyatakan ” bila kita menyediakan waktu untuk apa yang telah kita pelajari, maka ada peluang untuk terjadinya pengingatan. 

 Kebiasaan mengerjakan tugas
Agar berhasil dalam belajar seorang siswa harus mengerjakan tugas dengan baik. Tugas ini dapat dikerjakan di rumah, di sekolah, dan di perpustakaan (Djamarah dan Zain, 2006:85). Agar dapat mengerjakan tugas dengan baik, maka hendaklah mengerjakan tugas dengan baik, maka hendaklah mengikuti petunjuk-petunjuk sebagaimana yang dinyatakan oleh Slameto (2003:88) yaitu:

1). Siapkan terlebih dahulu peralatan dan buku-buku yang diperlukan.
2). Tentukanlah berapa lam waktu yang dibutuhkan.
3). Bacalah petunjuk soal dengan baik.
4). Bacalah soal satu per satu dari nomor pertama sampai nomor terakhir.
5). Kerjakanlah dulu nomor yang dianggap paling mudah, yang agak mudah sampai    akhir.
6). Jika mengalami kesulitan dalam mengerjakannya lihatlah buku catatan/buku  pegangan/ringkasan.
7). Jika masih tidak dapat mengerjakannya, tanyalah kepada ayah/kakak, teman-teman atau kepada guru yang bersangkutan.
8). Sesudah semua soal dikerjakan, periksalah kembali semua nomor yang dikerjakan itu.
9).  Koreksilah jawaban itu dengan memakai kunci atau buku catatan/pegangan.
10). Betulkan jawaban yang salah.
11). Jika tugas itu dikumpulkan, salinlah di kertas yang baik dengan tulisan yang jelas dan rapi, jangan lupa menulis nama, kelas, mata pelajaran dan hari/ tanggal tugas itu dikumpulkan.
12). Jika tugas itu sudah dikembalikan, periksa dan betulkan jawaban yang salah.
13). Jika tugas itu tidak dikumpulkan, salinlah jawaban yang sudah betul untuk dipelajari lebih lanjut.
14). Jika menyalinnya kedalam kertas tersendiri, maka bendellah atau masukkan kedalam map.
15). Simpanlah tugas itu dengan baik.
Memperbaiki tugas-tugas yang salah, sangat besar pengaruhnya untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Nasution (2008:16) menyatakan bahwa kesalahan tersebut dapat didiskusikan dalam kelompok kecil yang terdiri atas dua-tiga orang, untuk saling membantu memahami kesalahan dan memperbaikinya. Disamping itu tugas kelompok akan berjalan dengan baik, bila setiap anggota kelompok mendapat bagian-bagian tugas dan kemudian mendiskusikannya dengan anggota kelompok lain (Underwood, 1995:109). Cara memperbaiki kesalahan tersebut bermacam-macam seperti menyuruh  membaca kembali bahan yang belum dikuasai, membaca bagian yang salah tersebut pada buku lain yang berbeda cara penyajiannya, mendiskusikan kesalahan tersebut dalam kelompok kecil yang terdiri atas dua-tiga orang untuk saling membatu memahami kesalahan dan memperbaikinya.
-marthayunanda-
Read more »
Kompetensi Guru Profesional

Kompetensi Guru Profesional

1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal.
Berdasarkan kriteria ini, jelas bahwa guru yang memiliki profesionalisme tinggi akan selalu berusaha mewujudkan dirinya sesuai dengan standar yang ideal. Ia akan mengidentifikasi dirinya kepada figur yang dipandang memiliki standar ideal. Yang dimaksud dengan “standar ideal” ialah suatu perangkat perilaku yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai rujukan. 

2. Meningkatkan dan memelihara citra profesi
Hasil gambar untuk guruProfesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara citra profesi melalui perwujudan perlaku profesional. Citra profesi adalah suatu gambaran terhadap profesi guru berdasarkan penilaian terhadap kinerjanya. Perwujudannya dilakukan melalui berbagai cara misalnya penampilan, cara bicara, penggunaan bahasa, postur, sikap hidup sehari-hari, hubungan antar pribadi, dsb.

3. Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan professional yang dapat meningkatkan dan meperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampiannya.
Berdasarkan kriteria ini para guru diharapkan selalu berusaha mencari dan memanfaatkan kesempatan yang dapat mengembangkan profesinya. Berbagi kesempatan yang dapat dimanfaatkan antara lain:
(a) mengikuti kegiatan ilmiah misalnya lokakarya, seminar, symposium, dsb.,
(b) mengikuti penataran atau pendidikan lanjutan,
(c) melakukan penelitian dan pengabdian dana masyarakat,
(d) menelaah kepustakaan, membuat karya ilmiah,
(e) memasuki organisasi profesi (misalnya PGRI).

4. Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi 

Profesionalisme ditandai kualitas derajat rasa bangga  akan profesi yang dipegangnya. Dalam kaitan ini diharapkan agar para guru memiliki rasa bangga dan percaya diri akan profesinya. Rasa bangga ini ditunjukkan dengan penghargaan akan pengalamannya di masa lalu, dedikasi tinggi terhadap tugas-tugasnya sekarang, dan keyakinan akan potensi dirinya bagi perkembangan di masa depan. 
Read more »
Pengertian Lembar Kerja Siswa (LKS)

Pengertian Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS merupakan lembaran berisi materi berupa ringkasan dan dilengkapi dengan kumpulan soal (Budiono, 2006 dalam Rahmi, 2008: 22). LKS juga dapat diartikan sebagai lembaran yang berisi petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan siswa dalam pembelajaran. Petunjuk-petunjuk tersebut juga dapat berupa langkah-langkah yang saling berkaitan satu sama lain yang memudahkan siswa untuk menyelesaikan permasalahan-permasalah yang diberikan.

LKS merupakan lembaran yang memuat bahan pelajaran yang disusun secara sistematis dan teratur. LKS juga lembaran yang berisi pedoman dan petunjuk kerja bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang terprogram.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa LKS adalah perangkat pembelajaran yang berupa lembaran yang berisi tujuan pembelajaran, uraian materi pembelajaran, petunjuk melakukan kegiatan yang terprogram serta pertanyaan yang tersusun secara sistematis sehingga dapat mengarahkan siswa menemukan, memahami serta menerapkan suatu konsep dalam kegiatan belajar di kelas.
Read more »
Cara Berpikir Kreatif dan Tahap Pemecahan Masalah

Cara Berpikir Kreatif dan Tahap Pemecahan Masalah

PENGERTIAN BERFIKIR
  • Berfikir adalah proses tingkah laku menggunakan pikiran untuk mencari makna an pemahaman terhadap sesuatu, membuat pertimbangan dan keputusan atau penyelesaian masalah.
  • Masalah adalah suatu kondisi yang memilioki potensi untuk menimbulkan kerugian atau menghasilkan keuntungan yang luar biasa.
  • Pemecahan masalah tindakan memberi respon terhadap masalah untuk menekan akibat buruknya atau memanfaatkan peluang.

MACAM – MACAM KEGIATAN BERFIKIR


1. Berfikir 
asosiatif
Jenis-jenis berpikir asosiatif :
Asosiatif bebas
Suatu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain, tanpa ada batasnya. Misalnya, ide tentang makan dapat merangsang timbulnya ide tentang restoran, dapur, nasi atau anak yang belum sempat diberi makanan atau hal lainnya
Asosiatif terkontrol
Satu ide tertentu menimbulkan ide mengenai hal lain dalam batas-batas tertentu. Misalnya, ide tentang membeli mobil, akan merangsang ide-ide lain tentang harganya, pajaknya, pemeliharaannya, mereknya, atau modelnya, tetapi tidak merangsang ide tentang hal-hal lain di luar itu seperti peraturan lalu lintas, polisi lalu lintas, mertua sering meminjam barang-barang, piutang yang belum ditagih, dan sebagainya.
Melamun
Menghayal bebas, sebebas-bebasnya tanpa batas, juga mengenai hal-hal yang tidak realistis.
Mimpi
Ide-ide tentang berbagai hal yang timbul secara tidak disadari pada waktu tidur. Mimpi ini kadang-kadang terlupakan pada waktu terbangun, tetapi kadang-kadang masih dapat diingat.
Berfikir artistik
Proses berpikir yang sangat subjektif. Jalan pikiran sangat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Ini sering dilakukan oleh para seniman dalam mencipta karya-karya seninya.

2. Berfikir terarah
Berpikir terarah, yaitu proses berpikir yang sudah ditentukan sebelumya. Dan diarahkan pada sesuatu, biasanya diarahkan pada pemecahannya persoalan. Dua macam berpikir terarah, yaitu :

Berfikir analitis
Berpikir Analitis yaitu Berpikir Konvergen (cenderung menyempit dan menuju jawaban yang tunggal.
Berfikir kreatif
Berpikir kreatif, yaitu berpikir untuk menentukan hubungan-hubungan baru antara berbagai hal, menemukan pemecahan baru dari suatu soal, menemukan sistem baru, menemukan bentuk artistik baru dan sebagainya untuk memperoleh lebih dari satu jawaban.

Dalam berpikir selalu dipergunakan simbol, yaitu sesuatu yang dapat mewakili segala hal dalam alam pikiran. Misalnya perkataan buku adalah simbol uang mewakili benda yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas yang dijilid dan tertulis huruf-huruf.
Di samping kata-kata, bentuk-bentuk simbol antara laibn angka-angka dan simbol matematika, simbol simbol yang dipergunakan dalam peraturan lalu lintas, not musik, mata uang, dan sebagainya.

LANGKAH – LANGKAH PROSES BERFIKIR
Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu :
1. Pembentukan Pengertian atau lebih tepatnya disebut pengertian logis di bentuk melalui tiga tingkatan, sebagai berikut :
a. Menganalisis ciri-ciri dari sejumalah obyek yang sejenis. Obyek tersebut kita perhatikan unsur - unsurnya satu demi satu. Misalnya maupun membentuk pengertian manusia. Kita ambil manusia dari berbagai bangsa lalu kita analisa ciri-ciri misalnya :

Manusia Indonesia, ciri - cirinya :
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit sawo mateng
* Berambut hitam
* Dan sebagainya

Manusia Eropa, ciri - cirinya :
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit Putih
* Berambut pirang atau putih
* Bermata biru terbuka
* Dan sebagainya

Manusia Negro, ciri - cirinya:
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit htam
* Berambut hitam kriting
* Bermata hitam melotot
* Dan sebagainya

Manusia Cina, ciri - cirinya:
* Mahluk Hidup
* Berbudi
* Berkulit kuning
* Berambut hitam lurus
* Bermata hitam sipit
* Dan sebagainya

b. Membanding - bandingkan ciri tersebut untuk diketemukan ciri - ciri mana yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada dan mana yang tidak selalu ada mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki.
c. Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri-ciri yang tidak hakiki, menangkap ciri-ciri yang hakiki. Pada contoh di atas ciri - ciri yang hakiki itu ialah : Makhluk hidup yang berbudi.

2.Pembentukan Pendapat
Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri dari pokok kalimat atau subyek dan sebutan atau predikat.
Selanjutnya pendapat dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu : a. Pendapat positif, yaitu pendapat yang menyatakan keadaan sesuatu, Misalnya Sitotok itu pandai, Si Ani Rajin dan sebagainya.b. Pendapat Negatif, Yaitu Pendapat yang menidakkan, yang secara tegas menerangkan tentang tidak adanya seuatu sifat pada sesuatu hal : Misalnya Sitotok itu Bodoh Si Ani Malas dan sebagainya.c. Pendapat Modalitas atau kebarangkalian, Yaitu Pendapat yang menerangkan kebarangkalian, kemungkinan - kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal ; misalnya hari ini mungkin hujan, Si Ali Mungkin tidak Datang. Dan sebagainya.

3. Penarikan Kesimpulan atau Pembentukan Keputusan
Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada 3 macam keputusan, Yaitu :

a. Keputusan induktif
yaitu keputusan yang diambil dari pendapat - pendapat khusus menuju ke satu pendapat umum. Misalnya :
Tembaga di panaskan akan memuai
Perak di panaskan akan memuai
Besi di panaskan akan memuai
Kuningan di panaskan akan memuai Jadi (kesimpulan). Bahwa semua logam kalau dipanaskan akan memuai (Umum)

b. Keputusan Deduktif
Keputusan deduktif ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus , Jadi berlawanan dengan keputusan induktif. Misalnya : Semua logam kalau dipanaskan memuai (umum), tembaga adalah logam. Jadi (kesimpulan) : tembaga kalau dipanaskan memuai Contoh lain : Semua manusia terkena nasib mati, Si Karto adalah manusia Jadi pada suatu hari si Karto akan mati.

c. Keputusan Analogis
Keputusan Analogis adalah Keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada. Misalnya : Totok anak pandai, naik kelas (Khusus). Jadi (kesimpulan) Si Nunung anak yang pandai itu, tentu naik kelas.

STRATEGI DALAM PEMECAHAN MASALAH
Strategi Menyeluruh
Di sini persoalan dipandang sebagai suatu keseluruhan dan dipecahkan untuk keseluruhan itu.

Strategi Detailistis
Di sini persoalan di bagi-bagi dalam bagian-bagian dan dipecahkan bagian demi bagian.

STRATEGI PEMECAHAN MASALAH YANG SERING DIGUNAKAN 
1. Trial and Error
Salah satu kemungkinan strategi pemecahan masalah adalah trial and error sederhana. Akan tetapi strategi ini biasanya akan menghabiskan waktu lama sampai kemudian muncul pemecahan masalahnya. Dengan cara ini banyak masalah dapat pula justru tidak terpecahkan secara sempurna.

Untuk memecahkan masalah-masalah yang sulit, perlu untuk memiliki beberapa strategi selain trial and error. Strategi yang ada seharusnya dijadikan pijakan pada pengkategorian dan penggambaran yang akurat dari suatu masalah. Tetapi hal ini juga harus melalui perhitungan batas ingatan jangka pendek. Kita harus dapat menyelamatkan informasi dan pekerjaan kita tanpa harus dibatasi oleh ruang kerja yang terlalu sumpek dengan ingatan jangka pendek. Dengan cara ini kita akan dapat menggunakan strategi lain selain trial and error.

2. Informational Retrieval
Dalam beberapa kasus, pemecahan terhadap suatu masalah dapat menjadi sederhana seperti mengingat kembali informasi (Informational Retrieval) dari ingatan jangka panjang. Informational Retrieval adalah suatu pilihan penting ketika suatu pemecahan masalah harus ditemukan dengan cepat. Sebagai contoh seorang pilot dapat mengingat dengan cepat yang dibutuhkan untuk menerbangkan maupun mendaratkan pesawat. Ketika seorang pilot membutuhkan informasi, maka ia tidak punya cukup waktu untuk duduk dan menghitung jawaban benar karena waktu adalah hal yang esensial. Oleh karena itu ia gunakan ingatan jangka panjang untuk suatu jawaban segera. Cara ygn digunakan inilah merupakan suatu informational retrieval.

3. Algoritma
Makin kompleks suatu masalah tentu membutuhkan metode yang makin kompleks pula. Dalam beberapa kasus kita dapat menggunakan algoritma. Algoritma adalah metode pemecahan masalah yang menjamin suatu pemecahan masalah jika tersedia kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkannya. Sebagai contohnya adalah algoritma untuk memecahkan anagram, yaitu suatu kelompok huruf-huruf yang dapat diatur kembali menjadi suatu bentuk suatu kata. Katakanlah kita diberi huruf a, l, dan t. Lalu kita coba alt, atl, lta, tla, tal, dan akhirnya kita temukan lat (terlambat) sehingga masalahnya terpecahkan. Contoh lain adalah untuk memindahkan suhu Fahrenheit ke Celcius maka kita dapat menggunakan rumus = 5/9 x (F-32). Formula ini sebagaimana halnya formula yang lain merupakan suatu algoritma.

4. Heuristic
Banyak masalah yang dapat kita temukan sehari-hari yang tidak dapat begitu saja dapat dipecahkan dengan algoritma. Pada bagian ini kita akan belajar menggunakan strategi lain yang disebut dengan heuristic. Heuristic adalah suatu hukum yang terutama membantu kita untuk menyederhanakan masalah. Metode ini meski tidak menjamin suatu pemecahan masalah, tetapi akan mencoba atau berusaha untuk mencapainya. Suatu metode heuristic mungkin hanya dapat bekerja dengan baik untuk situasi tertentu, sementara metode yang lain mungkin hanya digunakan untuk tujuan-tujuan khusus. Akan tetapi metode heuristic secara umum dapat digunakan untuk masalah-masalah manusia yang lebih luas.

PROSES PEMECAHAN MASALAH
1. Penafsiran Masalah : Disebut juga dengan mendefinisikan masalah dengan cara berpikir kreatif.
2. Strategi Pemecahan Masalah : Membuat seleksi terhadap strategi pemecahan masalah yang terbaik.

PENYEBAB KESULITAN DALAM MEMECAHKAN PERSOALAN
1. Pemecahan persoalan yang berhasil biasanya cenderung dipertahankan pada persoalan-persoalan yang berikutnya. Padahal belum tentu persoalan berikut itu dapat dipecahkan dengan cara yang sama. Dalam hal ini akan timbul kesulitan-kesulitan terutama kalau orang yang bersangkutan tidak mau mengubah dirinya.
2. Sempitnya pandangan sering dalam memecahkan persoalan, seseorang hanya melihat satu kemungkinan jalan keluar. Meskipun ternyata kemungkinan yang satu ini tidak benar, orang tersebut akan mencobanya terus, karena ia tidak melihat jalan keluar yang lain. Tentu saja ia akan mengalami kegagalan. Kesulitan seperti ini disebabkan oleh sempitnya pandangan orang tersebut. Sehingga tidak dapat melihat adanya beberapa kemungkinan jalan keluar.


Demikianlah pembahasan mengenai cara berpikir dan pemecahan masalah
Read more »
Perkembangan Psiko - Fisik Peserta Didik

Perkembangan Psiko - Fisik Peserta Didik

Perkembangan motorik (fisik) siswa

Perkembangan motor (motor development), yakni proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor skills).

Terdapat empat macam faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skills anak yang juga memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya. Keempat faktor itu sebagai berikut:
a. Pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf
Pertumbuhan dan perkembangan kemampuannya membuat intelegensi (kecerdasan) anak meningkat dan menibulkan pola tingkah laku yang baru. Semakin baik perkembangan kemampuan sistem syaraf seorang anak akan semakin baik dan beragam pula pola-pola tingkah laku yang dimilikinya. Akan tetapi organ sitem syaraf ini lain dari yang lain, karena apabila rusak tidak dapat diganti atau tumbuh lagi.
b. Pertumbuhan otot-otot
Otot merupakan jaringan sel-sel yang dapat berubah memanjang dan juga sekaligus merupakan unit atau kesatuan sel yang memiliki daya mengkerut. Diantara fungsi-fungsi pokoknya adalah sebagai pengikat organ-organ lainnya dan sebagai jaringan pembuluh yang mendistribusikan sari makanan.
Peningkatan tegangan otot anak dapat menimbulkan perubahan dan peningkatan aneka ragam kemampuan dan kekuatan jasmaninya. Perubahan ini sangat tampak dari anak yang sehat dari tahun ke tahun dengan semakin banyaknya keterlibatan anak tersebut dalam permainan yang bermacam-macam atau dalam membuat kerajinan tangan yang semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya dari masa ke masa.
c. Perkembangan dan pertumbuhan fungsi kelenjar endokrin
Kelenjar adalah alat tubuh yang mengahasilkan cairan atau getah, seperti kelenjar keringat. Perubahan fungsi dari kelenjar-kelenjar endokrin akan mengakibatkan berubahnya pola sikap dan tingkah laku seorang remaja terhadap lawan jenisnya. Perubahan ini dapat berupa seringnya bekerja sama dalam belajar atau beolah raga, perubahan pola perilaku yang bermaksud menarik perhatian lawan jenis, berubahnya gaya dandanan/penampilan dan lain-lain.
d. Perubahan struktur jasmani
Semakin meningkat usia anak maka akan semakin menigkat pula ukuran tinggi dan bobot serta proporsi tubuh pada umumnya. Perubahan jasmani ini akan banyak berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan dan kecakapan motor skills anak. Pengaruh perubahan fisik seorang siswa juga tampak pada sikap dan perilakunya terhadap orang lain, karena perubahan fisik itu sendiri mengubah konsep diri (self-concept) siswa tersebut.

 Perkembangan kognitif (cognitive development)

Perkembangan kognitif (cognitive development), yakni perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa (Chaplin, 1972)
Ranah psikologis siswa yang terpenting adalah ranah kognitif. Ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif psikologi kognitif, adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya. Tanpa ranah kognitif sulit dibayangkan seorang siswa mampu berpikir. Selanjutnya tanpa kemampuan berpikir mustahil siswa dapat memahami dan meyakini faedah materi-materi pelajaran yang disampaikan oleh guru mereka. Selain itu juga sulit untuk menagka pesan moral yang terkandung dalam pelajran tersebut. Sehingga faidah pengembangan ranah kognitif siswa adalah untuk mengembangkan kecakapan berikut ini:
1. Mengembangkan kecakapan kognitif
2. Mengembangkan kecakapan afektif
3. Mengembangkan kecakapan psikomotor

Ada beberapa teori tentang perkembangan kognitif diantaranya:
a. Kajian teori Piaget tentang perkembangan kognitif
Menurut Jean Piaget (1886-1980) manusia tumbuh, beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik, perkembangan kepribadian, perkembangan sosio-emosional, dan perkembangan kognitif. Khususnya perkembangan kognitif sebagian besar bergangtung kepada seberapa jauh anak mampu memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Ada tiga aspek perkembangan intelektual yaitu struktur, isi dan fungsi. Struktur atau skemata merupakan organisasi mental tingkat tinggi yang terbentuk pada individu waktu ia berinteraksi dengan lingkungannya. Isi merupakan pola perilaku khas anak yang tercermin pada responnya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapi. Sedangkan fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan- kemajuan intelektual. Fungsi itu sendiri terdiri dari organisasi dan adaptasi.

Organisasi memberikan organisme kemampuan untuk mengorganisasi proses-proses fisik atau proses-proses psikologi menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan. Fungsi kedua yang melandasi perkembangan intelektual adalah adaptasi. Semua organisme lahir dengan kecenderungan untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan mereka. Cara adaptasi ini berbeda antara organisme yang satu dengan organisme yang lain. Adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi.

Dalam proses asimilasi, seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menanggapi masalah yang dihadapi dalam lingkungannya. Sedangkan dalam proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi struktur mental yang ada dalam mengadakan respon terhadap tantangan lingkungannya. Piaget mengemukakan dalam teorinya bahwa kemampuan kognitif manusia berkembanga menurut empat tahap dari lahir sampai dewasa. Tahap-tahap tersebut beserta urutannya berlaku untuk semua orang. Akan tetapi usia pada saat seseorang mulai memasuki sesuatu tahapan tertentu selalu sama untuk setiap orang
Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif anak terdirir dari empat tahapan, diantaranya[3][10]:
1. Tahap sensory-motor
Tahap ini terjadi antara usia 0-2 tahun. Intelegensi sensory motor dipandang sebagai intelegensi praktis. Anak pada usia ini belajar bagaimana mengikuti dunia kebendaaan secara praktis dan belajar menimbulkan efek tertentu tanpa memahami apa yang sedang mereka perbuat kecuali hanya mencari cara melakukan perbuatan tersebut. Tahap sensori motor berlangsung sejak manusia lahir sampai berusia 2 tahun.
Pada tahap ini pemahaman anak mengenai berbagai hal terutama bergantung pada kegiatan (gerakan) tubuh beserta alat-alat indera. Sebagai contoh, pada tahap ini anak tahu bahwa di dekatnya ada sesuatu barang mainan kalau ia sentuh barang itu. Pada tahap ini, tanpa menggunakan kegiatan tubuh atau indera, anak belum bisa memahami sesuatu.
2. Tahap pre-operational
Periode ini terjadi pada usia 2-7 tahun. Pada tahapan ini anak sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya yang harus ada dan biasanya ada, walaupun benda tersebut sudah ditinggalkan, sudah tidak dilihat atau sudah tidak pernah diengar lagi. Selain itu seorang anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang benar dan mampu pula mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. 

Pada tahap ini, dalam memahami segala sesuatu, anak tidak lagi hanya bergantung pada kegiatan (gerakan) tubuh atau inderanya. Dalam arti anak sudah menggunakan pemikirannya dalam berbagai hal. Akan tetapi, pada tahap ini pemikiran anak masih bersifat egosentris. Artinya, pemahamannya mengenai berbagai hal masih terpusat pada dirinya sendiri. Pada tahap ini anak berfikir bahwa orang-orang lain mempunyai pemikiran dan perasaan seperti yang ia alami. Dengan kata lain, pada tahap ini anak belum berpikir secara obyektif, lepas dari dirinya sendiri. Pada tahap ini anak masih kesulitan dalam melakukan pembalikan pemikiran (reversing thought). Pada tahap ini anak masih juga mengalami kesulitan dalam berfikir secara induktif mapun deduktif. Tetapi pada tahap ini anak cenderung berfikir transduktif (dari hal khusus ke hal khusus lainnya), sehingga cara berfikirnya belum tampak logis.

3. Tahap concrete-operational
Tahapan ini terjadi pada usia 7-11 tahun. Dalam tahapan ini seorang anak memperoleh kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah berpikir). Selain itu anak memiliki kemampuan konservsi (kemampuan dalam memahami aspek-aspek kumulatif materi, seperti volume),penambahan golongan benda (kemampuan dalam memahami cara mengkombinasikan benda-benda yang memiliki kelas rendah dengan kelas atasnya lagi), dan pelipatgandaan golongan benda.
Pada tahap ini tingkat egosentris anak sudah berkurang. Dalam arti bahwa anak sudah dapat memahami bahwa orang lain mungkin memiliki pikiran dan perasaan yang berbeda dengan dirinya. Dengan kata lain, anak sudah bisa berfikir secara obyektif. Pada tahap ini anak juga sudah bisa berfikir logis tentang berbagai hal, termasuk yang agak rumit, tetapi dengan syarat bahwa hal tersebut disajikan secara konkret (disajikan dalam wujud yang bisa ditangkap dengan panca indera. Tanpa adanya benda-benda konkret, anak akan mengalami kesulitan dalam memahami banyak hal dan dalam berpikir logis. Sehingga, untuk anak yang berada dalam tahap ini, pengajaran lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat verbal.

4. Tahap formal-operational
Usia tahapan ini adalah 11-15 tahun. Pada tahap ini seorang remaja memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara serentak maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitifnya. Yaitu kapasitas menggunakan hipotesis dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kemampuan hipotesis, remaja mampu berpikir khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respon. Sedangkan dengan memiliki kapasitas prinsip-prinsip abstrak, mereka mampu mempelajari materi pelajaran yang abstrak, seperti ilmu matematika.
Dan juga pada tahap ini anak atau orang sudah mampu berfikir secara logis tanpa kehadiran benda-benda konkret; dengan kata lain anak mampu melakukan abstraksi. Akan tetapi, perkembangan dari tahap operasi konkret ke tahap ini tidak terjadi secara mendadak, ataupun berlangsung sempurna. Tetapi terjadi secara gradual. Sehingga bisa terjadi pada tahun-tahun pertama ketika anak berada pada tahap ini. Kemampuan anak dalam berpikir secara abstrak masih belum berkembang sepenuhnya. Sehingga dalam berbagai hal, si anak mungkin masih memerlukan bantuan alat peraga. Di samping itu, ada cukup banyak anak yang memasuki tahap ini lebih lambat daripada anak lainnya. Dengan demikian ada kemungkinan, sekalipun anak sudah berada di bangku SMP, perkembangan kemampuan berfikirnya masih berada pada tahap operasi konkret. Untuk anak yang seperti, pembelajaran yang hanya menekankan pada simbol- simbol dan hal-hal yang bersifat verbal akan sulit dipahami. Oleh karena itu guru perlu memperhatikan secara seksama kemampuan berfikir tiap-tiap siswa, sekalipun usia mereka relatif sama. Agar guru bisa memberikan perlakuan yang sesuai dengan tahap perkembangan kemampuan berpikirnya.

Teori Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif manusia terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti:
a) Kematangan (maturation), yaitu pertumbuhan otak dan sistem syaraf manusia karena bertambahnya usia dari lahir sampai dewasa.
b) Pengalaman (experience) yang terdiridari:
· Pengalamanfisik, yaituinteraksimanusiadenganobyek-obyekdilingkungannya.
· Pengalamanlogikamatematis, yaitukegiatan-kegiatanpikiran yang dilakukanmanusia yang bersangkutan.
c) Transmisisosial, yaituinteraksidankerjasama yang dilakukanolehmanusiadenganmanusialainnya.
d) Penyeimbangan (equilibration), yaitu proses struktur mental (struktur kognitif)manusia kehilangan keseimbangan sebagai akibat dari adanya pengalaman- pengalaman atau pembelajaran-pembelajaran baru, kemudian berusaha untukmencapai keseimbangan baru melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses dimana informasi- informasi dan pengalaman-pengalamana baru diserap (dimasukkan) ke dalam struktur kognitif manusia. Sedangkan akomodasi adalah penyesuaian pada struktur kognitif manusia sebagai akibat dari adanya informasi-informasi dan pengalaman baru yang diserap.
Adaptasi merupakan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Jika dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat beradaptasi, maka terjadi ketidakseimbangan (disequili-brium). Akibat ketidakseimbangan ini terjadi akomodasi, dan struktur yang ada mengalami perubahan atau timbul struktur baru, barulah terjadi equilibrium. Setelah terjadi equilibrium seseorang berada pada tingkat kognitf yang lebih tinggi dari sebelumnya dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya .

b. Kajian teori Vygotsky tentang perkembangankognitif
Teori Vygotsky menekankan pada hakekat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky berpendapat bahwa interaksi sosial, yaitu interaksi individu dengan orang lain merupakan faktor yang terpenting yang mendorong atau memicu perkembangan kognitif seseorang. Sebagai contoh, seorang anak belajar berbicara sebagai akibat dari interaksi anak itu dengan orang-orang disekelilingnya. Terutama orang yang lebih dewasa. Interaksi ini akan memberikan rangsangan dan bantuan bagi anak untuk berkembang. Proses-proses mental yang dilakukan atau dialami oleh seorang anak dalam interaksinya dengan orang lain diinternaslisasi oleh si anak. Dengan cara ini kemampuan kognitif si anak berkembang.

Vygotsky berpendapat juga bahwa proses belajar akan terjadi secara efisien dan efektif apabila si anak belajar secara kooperatif dengan anak-anak lain suasana lingkungan yang mendukung (supportive), dalam bimbingan atau pendampingan seseorang yang lebih mampu atau lebih dewasa, misalnya seorang guru.
Menurut Vygotsky, setiap anak mempunyai apa yang disebut zona perkembangan proksimal (zone of proximal development), yang oleh Vygotsky didefinisikan sebagai ”jarak” atau selisih antara tingkat perkembangan si anak yang aktual, yaitu tingkat yang ditandai dengan kemampuan si anak untuk menyelesaikan soal-soal tertentu secara independent, dengan tingkat perkembangan potensial yang lebih tinggi yang bisa dicapai oleh si anak jika ia mendapat bimbingan dari seseorang yang lebih dewasa atau lebih kompeten.

Dengan kata lain, zone perkembangan proksimal adalah selisih antara apa yang bisa dilakukan seorang anak secara independen dengan apa yang bisa dicapai oleh anak tersebut jika ia mendapat bantuan dari seseorang yang lebih kompeten. Bantuan dari orang yang lebih dewasa dimaksudkan agar si anak mampu untuk mengerjakan soal-soal atau tugas-tugas yang lebih tinggi tingkat kerumitannya dari pada perkembangan kognitif yang aktual dari anak yang bersangkutan disebut dukungan dinamis atau scaffolding. Bentuk dari bantuan itu dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, penguraian langkah-langkah pemecahan, pemberian contoh, atau segala sesuatu yang dapat mengakibatkan siswa mandiri.

Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi umumnya muncul dalam percakapan/kerjasama antar siswa sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap. Dari uraian di atas nampak bahwa kontribusi penting dari Vygotsky adalah pada sifat alami sosiokultural dari pembelajaran. Pembelajaran berlangsung ketika siswa bekerja dalam zone of proximal development .

c. Kajian teori Jerome Bruner tentang perkembangan kognitif
Jerome Bruner, seorang ahli psikologi dari Harvard, mendefinisikan perkembangan kognitif sebagai[5][12]:
· Perkembangansistem internal yang mewakilibagaimanamengolahinformasi
· Pengetrapansistemitukedalambagaimanamengorganisasiinformasibaruyang diperoleh.
Seperti halnya kemajuan perkembangan, informasi yang diorganisir, anak-anak menjadi meningkat dalam hal berfikir abstrak, menggunakan teori untuk memecahkan masalah.
Bruner mengemukakan beberapa tanda pertumbuhan intelektual:
1). Kecakapan bertindak sendiri dalam situasi yang tiba-tiba atau cepat, menunjukkan respon yang sama dari si perangsang yang berubah, atau mengubah respon meskipun lingkungan tetap sama.
2). Kecakapan membentuk model-model mental yang memungkinkan anak menerima informasi, menghipotesiskannya dan menduga kejadian-kejadian.
3). Kecakapan berinteraksi dengan orang lain, belajar dari orang lain
4). Kecakapan melakukan beberapa alternatif secara bersama-sama atau simultan untuk menghadapi tuntutan yang kompleks.
Semua kecakapan tersebut tidak terjadi sesaat tetapi berkembang secara bertahap melalui tahap-tahap perkembangan intelektual.
3. Perkembangansosialdan moral (social and moral development)
Lingkungan sosial yaitu merupakan lingkungan masyarakat. Dalam lingkungan masyarakat ini adanya interaksi individu satu dengan individu lain. Keadaan masyarakat akan memberikan pengaruh tertentu terhadap perkembangan individu
 Manusia adalah makhluk sosial dan tanpa interaksi dengan masyarakat dia tidak dapat mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Kemampuan ini dikembangkan sebagai hasil dari perkembangan historis umat manusia

Perkembangan sosial merupakan proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayat. Perkembangan sosial, menurut Bruno (1987), merupakan proses pembentukansocial self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya

Perkembangan sosial dan moral (social and moral development), yakni proses perkambangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak dalam berkomunikasi dengan obyek atau orang lain, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.
Perkembangan ini merupakan perkembagan kepribadian siswa selaku anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Proses perkembangan ini berkaitan juga dengan proses belajar. Sehingga konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan sosial siswa sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial) siswa disekolah dan keluarga maupun lingkungan yang lebih luas lagi.
Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan merupakan perkembangan moral, sebab perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial. Seorang siswa hanya akan berperilaku sosial tertentu secara memadai apabila menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan untuk menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan.

Seperti dalam proses perkembangan yang lannya, proses perkembangan sosial dan moral selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan sosial sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial), baik dilingkungan sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Hal ini bermakna bahwa proses belajar sangat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral, agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral yang berlaku dalam masyarakat.

Dalam dunia psikologi belajar terdapat aneka ragam mazhab (aliran pemikiran) yang berhubungan dengan perkembangan moral. Diantaranya adalah aliran teori Cognitive Psychology dengan tokoh utama Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg, dan aliran teori Social Learning dengan tokoh utama Albert Bandura dan R.H. Walters
Perkembangan sosial anak selalu dihubungkan dengan perkembangan perilaku moral yaitu perilaku baik dan buruk menurut norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Perkembangan Moral versi Piaget dan Kohlberg

¤ Teori Piaget
Dalam bukunya The moral judgement of the Child (1923) Piaget menyatakan bahwa kesadaran moral anak mengalami perkembangan dari satu tahap yang lebih tinggi. Pertanyaan yang melatar belakangi pengamatan Piaget adalah bagaimana pikiran manusia menjadi semakin hormat pada peraturan. Ia mendekati pertanyaan itu dari dua sudut. Pertama kesadaran akan peraturan (sejauh mana peraturan dianggap sebagai pembatasan) dan kedua, pelaksanaan dari peraturan itu.

Piaget mengamati anak-anak bermain kelereng, suatu permainan yang lazim dilakukan oleh anak-anak diseluruh dunia dan permainan itu jarang diajarkan secara formal oleh orang dewasa.
Dengan demikian permainan itu mempunyai peraturan yang jarang atau malah tidak sama sekali ada campur tangan orang dewasa. Dan melalui perkembangan umur maka orientasi perkembangan itupun berkembang dari sikap heteronom ( bahwasannya peraturan itu berasal dari diri orang lain) menjadi otonom 9 dari dalam diri sendiri. Pada tahap heteronom anak-anak menggangap bahwa peraturan yang diberlakukan dan berasal dari bukan dirinya merupakan sesuatu yang patut dipatuhi, dihormati, diikuti dan ditaati oleh pemain. Pada tahap otonom, anak-anak beranggapan bahwa peraturan-peraturan merupakan hasil kesepakatan bersama antara para pemain.

Anak-anak pada usia paling muda hingga umur 2 tahun melakukan aktivitas bermain dengan apa adanya, tanpa aturan dan tanpa ada hal yang patut untuk mereka patuhi. Mereka adalah motor activitytanpa dipimpin oleh pikiran. Pada tahap ini merepa belum menyadari adanya peraturan yang koersif, atau bersifat memaksa dan harus di taati. Dalam pelaksanaannya peraturan kegiatan anak-anak pada umur itu merupakan motor activiy.

Anak-anak pada umur antara 2 sampai 6 tahun mereka telah mulai memperhatikan dan bahkan meniru cara bermain anak-anak yang lebih besar dari mereka. Pada tahap ini anak-anak telah mulai menyadari adanya peraturan dan ketaatan yang telah dibuat dari luar dirinya dan harus ditaati dan tidak boleh diganggu gugat. Pada tahap ini anak-anak cenderung bersikap egosentris, mereka akan memandang “sangat salah” apabila aturan yang telah ada di ubah dan dilanggar. Dan ia meniru apa yang dilihatnya semata-mata demi untuk dirinya sendiri, tidak tahu bahwa bermain adalah aktivitas yang dilakukan dengan anak-anak lainnya. Sehingga meskipun bermain dilakukan secara bersama sama namun sebenarnya mereka bermain secara individu, sendiri-sendiri dengan melakukan pola dan cara yang mereka yakini sendiri. Pelaksanaan yang bersifat egosentris merupakan tahap peralihan dari tahap yang individualistis murni ke tahap permainan yang bersifat social.

Anak pada usia 7-10 tahun beralih dari kesenangan yang semata-mata psikomotor kepada kesenangan yang didapatkan dari persaingan dengan kawan main dengan mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku dan disetujui bersama. Walaupun sebenarnya tidak faham akan peraturan sampai hal yang paling kecil namun keinginan untuk bekerja sama dengan kawan bermain amatlah besar. Anak ingin memahami peraturan dan bermain dengan mengikuti peraturan itu. Pada tahap ini sifat heteronomberangsur menjadi otonom.
Pada usia 11 sampai 12 tahun kemampuan anak untuk berfikir abstrak mulai berkembang. Pada umur umur itu, kodifikasi (penentuan) peraturan sudah dianggap perlu. Kadang-kadang mereka lebih asyik tertarik pada soal-soal peraturan daripada menjalankan permainannya sendiri.
¤ Teori Kohlberg
Teori Piaget kemudian menjadi inspirasi bagi Kohlberg. Hal yang menjadi kajian Kohlberg adalah tertumpu pada argumentasi anak dan perkembangan argumentasi itu sendiri. Melalui penelitian yang dilakukannya selama 14 tahun, Kohlberg kemudian mampu mengidentifikasi 6 (enam) tahap dalam moral reasoning yang kemudian dibagi dalam tiga taraf.

1). Taraf Pra-Konvensional
Yaitu ketika manusia berada dalam fase perkembangan prayuwana (usia 4-10 tahun) yang belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial. Pada taraf ini anak telah memiliki sifatresponsif terhadap peraturan dan cap baik dan buruk, hanya cap tersebut ditafsirkan secara fisis danhedonistis(berdasarkan dengan enak dan tidak enak, suka dan tidak suka) kalau jahat dihukum kalau baik diberi hadiah. Anak pada usia ini juga menafsirkan baik buruk dari segi kekuasaan dari asal peraturan itu diberi, orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada taraf ini terdiri dari dua tahapan yaitu :
Ø Punishment and obedience orientation.
Akibat-akibat fisik dari tindakan menentukan baik buruknya tindakan tersebut menghindari hukuman dan taat secara buta pada yang berkuasa dianggap bernilai pada dirinya sendiri.
Ø Instrument-relativist orientation.
Akibat dalam tahap ini beranggapan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang dapat menjadi alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dianggap sebagai hubungan jual beli di pasar. Engkau menjual saya membeli, saya menyenangkan kamu, maka kamu mesti menyenangkan saya.

2). Conventional Level( taraf Konvensional)
Yaitu ketika manusia menjelang dan mulai memasuki fase perkembangan yuwana (usia 10-13 tahun) yang sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial.
Pada taraf ini mengusahakan terwujudnya harapan-harapan keluarga atau bangsa bernilai pada dirinya sendiri. Anak tidak hanya mau berkompromi, tapi setia kepadanya, berusaha mewujudkan secara aktif, menunjukkan ketertiban dan berusaha mewujudkan secara aktif, menunjang ketertiban dan berusaha mengidentifikasi diri mereka yang mengusahakan ketertiban social. Dua tahap dalam tahap ini adalah:
a). Tahap interpersonal corcodance atau “good boy-nice girl” orientation.
Tingkah laku yang lebih baik adalah tingkah laku yang membuat senang orang lain atau yang menolong orang lain dan yang mendapat persetujuan mereka. Supaya diterima dan disetujui orang lain seseorang harus berlaku “manis”. Orang berusaha membuat dirinya wajar seperti pada umumnya orang lain bertingkah laku. Intensi tingkah laku walaupun kadang-kadang berbeda dari pelaksanaanya sudah diperhitungkan, misalnya orang-orang yang mencuri buat anaknya yang hampir mati dianggap berintensi baik.
b). Tahap law and order, orientation.
Otoritas peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan dan pemeliharaan ketertiban social dijunjung tinggi dalam tahap ini. Tingkah laku disebut benar, bila orang melakukan kewajibannya, menghormati otoritas dan memelihara ketertiban social.

3). Post Konventional Level ( taraf sesudah konvensional)
Yaitu ketika manusia telah memasuki fase perkembangan yuwana dan pascayuwana (usia 13 tahun ke atas) yang memandang moral lebih dari kesepakatan tradisi sosial.
Pada taraf ini seorang individu berusaha mendapatkan perumusan nilai-nilai moral dan berusaha merumuskan prinsip-prinsip yang sah (valid) dan yang dapat diterapkan entah prinsip itu berasal dari otoritas orang atau kelompok yang mana. Tahapannya adalah :
a). Social contract orientation.
Dalam tahap ini orang mengartikan benar-salahnya suatu tindakan atas hak-hak individu dsan norma-norma yang sudah teruji di masyarakat. Disadari bahwa nilai-nilai yang bersiat relative, maka perlu ada usaha untuk mencapai suatu consensus bersama.
b). The universal ethical principle orientation.
Benar salahnya tindakan ditentukan oleh keputusan suara nurani hati. Sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dianut oleh orang yang bersangkutan, prinsip prinsip etis itu bersifat avstrak. Pada intinya prinsip etis itu adalah prinsip keadilan, kesamaan hak, hak asasi, hormat pada harkat( nilai) manusia sebagai pribadi.
Dalam proses perkembangan moral reasoning dengan enam tahapannya seperti itu berlakulan dalil berikut :
aa). Perkembangan moral terjadi secara berurutan dari satu tahap ke tahap berikutnya.
bb).Dalam perkembangan moral orang tidak memahami cara berfikir dari tahap yang lebih dari dua tahap diatasnya.
cc). Dalam perkembangan moral, seseorang secara kognitif tertari pada cara berfikir dari satu tahap diatas tahapnya sendiri. Anak dari 2 tahap 2 merasa tertarik kepada tahap 3. berdasarkan inilah kohlber percaya bahwa moral reasoning dapat dan mungkin diperkembangkan.
dd).Dalam perkembangan moral, perkembangan hanya akan terjadi apabila diciptakan suatu diequilibrium kognitif pada diri si anak didik. Sesorang yang sudah mapan dalam satu tahap tertentu harus diusik secara kognitif sehinga ia terangsang untuk memikirkan kembali prinsip yang sudah dipegangnya. Kalau ia tetap tentram dan tetap dalam tahapannya sendiri, maka tidak mungkin ada perkembangan.

 Perkembangan Bahasa
Bayi beru lahir sampai usia satu tahun lazim disebut dengan istilah infant artinya tidak mampu berbicara. Istilah ini memang tepat kalau dikaitkan dengan kemempuan berbicara. Perkembangan bahasa bayi dapat dibagi dua yaitu; tahap perkembangan artikulasi, dan 2) tahap perkembangan kata dan kalimat (Poerwo, 1989).
1. Tahap Perkembangan Artikulasi
Tahap ini dilalui bayi antara sejak lahir kira-kira berusia 14 bulan. Usaha kea rah “menghasilakan” bunyi-bunyi itu sudah mulai pada minggu-minggu sejak kelahiran bayi tersebut. Perkembangan menghasilkan bunyi ini disebut perkembangan artikulasi, dilalui seorang bayi melalui rangkaian tapap sebagai berikut.
a. Bunyi Resonansi
Penghasilan bunyi, yang terjadi dalam rongga mulut, tidak terlepas dari kegiatan dan perkembangan montorik bayi pada bagian rongga mulut. Baunyi yang paling umum yang dapat dibuat bayi adalah bunyi tangis karena merasa tidak enak atau merasa lapar dan bunyi-bunyi sebagai batuk, bersin, dan sedawa. Disamping itu, ada pula bunyi bukan tangis yang disebut bunyi “kuasi resonansi, bunyi ini belum ada konsonannya dan vokalnya belum sepenuhnya mengandung resonansi.

b. Bunyi berdekut
Mendekati usia dua bulan bayi telah mengembangan kendali otot mulut untuk memulai dan mengentikan gerakan secara mantap. Pada tahap ini suara tawa dan suara berdekut (cooking) telah terdengar. Bunyi berdekut ini agak mirip dengan bunyi [ooo] pada burung merpati. Bunyi yang dihasilkan adalah bunyi konsonan belakang dan tengah dengan vocal belakang, tetapi dengan resonansi penuh. Bunyi konsonannya mirip dengan bunyi [s] dan bunyi hampat velar yang mirip dengan bunyi [k] dan [g].
c. Bunyi Berleter
Berleter adalah mengelurkan bunyi yang terus menerus tanpa tujuan. Berleter ini biasanya dilakukan oleh bayi yang berusia antara empat sampai enam bulan.
d. Bunyi Berleter Ulang
Tahap ini dilalui si anak berusia antara enam sampai sepuluh bulan. Konsonan yang mula-mula dapat diucapkan adalah bunyi labial [p] dan [b], bunyi letup alveolarm [t] dan [d], bunyi nasal [j]. Yang paling umum terdengar adalah bunyi suku kata yang merupakan rangkaian konsonan dan vocal seperti “ba-ba-ba” atau “ma-ma-ma”.
e. Bunyi vakabel
Vakabel adalah bunyi yang hamper menyerupai kata, tetapi tidak mempunyai arti dan bukan merupkan tiruan orang dewasa. Vokabel ini dapat dihasilkan oleh sang anak antara usia 11 sampai 14 bulan.

2. Tahap Perkembangan Kata dan Kalimat
Kemampuan bervakabel dilanjutkan dengan kemampuan mengucapkan kata, lalu mengucapkan kalimat sederhana, dan kalimat yang lebih sempurna.
a. Kata Pertama
Kemampuan mengucapkab kata pertama sangat ditentukan oleh penguasaan artikulasi, dan oleh kemampuabn mengaitkan kata dengan benda yang menjadi rujukkan (de Vilers, 1097 dalam Purwo, 1989). Pada tahap ini anak cenderung menyederhanakan pengecapannya yang dilakukan secara sistematis.
b. Kalimat Satu Kata
Kata pertama yang berhasil diucapkan anak akan disusul oleh kata kedua, ketiga, keempay dan seterusnya. Kalimat satu kata yang lazim disebut ucapan holofrasis.
c. Kalimat Dua kata
Yang dimaksud dengan kalimat dua kata adalah kalimat yang hanya terdiri dari dua buah kata, sebagai kelanjutan dari kalimat satu kata.
d. Kalimat Lebih lanjut
Pernguasaan kalimat dua kata mencapai tahap tertentu, maka berkembanglah penyusunan kalimat yang terdiri dari tiga buah kata.
3. Tahap Menjelang Sekolah
Yang dimaksud dengan menjelang Sekolah di sini adalah menjelang masuk sekolah dasr, yaitu pada waktu mereka berusia antara lima sampai enam tahun. Pendidikan di taman kanak-kanak (TK), apalagi kelompok bermain (playgrop) belum dapat dianggap sebagai sekolah, sebab sifatnya hanya menolong anak untuk siap memesuki pendidikan dasar. Ketika memasuski taman kanak-kanak anak sudah menguasai hampir semua kaidah dasar gramatikal bahanya. Dia sudah dapat membuat kalimat berita, kalimat Tanya, dan sejumlah konstuksi lain. Anak pada prasekolah ini telah mempelajari hal-hal yang di luar kosakata dan tata bahasa. Merka sudah dapat menggunakan bahasa dalam konteks social yang bermacam-macam.

Perkembangan Sosioemosional siswa
Sosio berasal dari bahasa Latin yaitu Sociusyang berarti kawan. Emosional berasal dari kataemosi menurut English and English, Emosi adalah “ A complex feeling state accompanied by characteristic motor and glandural activies ” ( Suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris).
Di dalam emosi bayi terdapat beberapa macam emosi yaitu: Emosi positif dan emosi negatif.
a) Contoh emosi positif pada bayi: rasa senang, antusiasme, cinta.
b) Contoh emosi negatif pada bayi: rasa cemas, marah, rasa bersalah, rasa sedih.
Read more »
Manfaat Psikologi Pendidikan

Manfaat Psikologi Pendidikan

Manfaat mempelajari psikologi pendidikan bagi guru dan calon guru dapat dibagi menjadi dua aspek, yaitu:
1. Untuk Mempelajari Situasi Dalam Proses Pembelajaran
Psikologi pendidikan memberikan banyak kontribusi kepada guru dan calon guru untuk meningkatkan efisiensi proses pembelajaran pada kondisi yang berbeda-beda seperti di bawah ini.

a. Memahami Perbedaan Individu (Peserta Didik)
Seorang guru harus berhadapan dengan sekelompok siswa di dalam kelas dengan hati-hati, karena karakteristik masing-masing siswa berbeda-beda. Oleh karena itu sangat penting untuk memahami perbedaan karakteristik siswa tersebut pada berbagai tingkat pertumbuhan dan perkembangan guna menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Psikologi pendidikan dapat membantu guru dan calon guru dalam memahami perbedaan karakteristik siswa tersebut.

b. Penciptaan Iklim Belajar yang Kondusif di Dalam Kelas
Pemahaman yang baik tentang ruang kelas yang digunakan dalam proses pembelajaran sangat membantu guru untuk menyampaikan materi kepada siswa secara efektif. Iklim pembelajaran yang kondusif harus bisa diciptakan oleh guru sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan efektif. Seorang guru harus mengetahui prinsip-prinsip yang tepat dalam proses belajar mengajar, pendekatan yang berbeda dalam mengajar untuk hasil proses belajar mengajar yang lebih baik. Psikologi pendidikan berperan dalam membantu guru agar dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga proses pembelajaran di dalam kelas bisa berjalan efektif.

c. Pemilihan Strategi dan Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran didasarkan pada karakteristik perkembangan siswa. Psikologi pendidikan dapat membantu guru dalam menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami peserta didik.

d. Memberikan Bimbingan Kepada Peserta Didik
Seorang guru harus memainkan peran yang berbeda di sekolah, tidak hanya dalam pelaksanaan pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai pembimbing bagi peserta didik. Bimbingan adalah jenis bantuan kepada siswa untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan memungkinkan guru untuk memberikan bimbingan pendidikan dan kejuruan yang diperlukan untuk siswa pada tingkat usia yang berbeda-beda.

e. Mengevaluasi Hasil Pembelajaran
Guru harus melakukan dua kegiatan penting di dalam kelas seperti mengajar dan mengevaluasi. Kegiatan evaluasi membantu dalam mengukur hasil belajar siswa. Psikologi pendidikan dapat membantu guru dan calon guru dalam mengembangkan evaluasi pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis evaluasi, pemenuhan prinsip-prinsip evaluasi maupun menentukan hasil-hasil evaluasi.

2. Untuk Penerapan Prinsip-prinsip Belajar Mengajar
a. Menetapkan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran mengacu pada perubahan perilaku yang dialami siswa setelah dilaksanakannya proses pembelajaran. Psikologi pendidikan membantu guru dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran.

b. Penggunaan Media Pembelajaran
Pengetahuan tentang psikologi pendidikan diperlukan guru untuk merencanakan dengan tepat media pembelajaran yang akan digunakan. Misalnya penggunaan media audio-visual, sehingga dapat memberikan gambaran nyata kepada peserta didik.

c. Penyusunan Jadwal Pelajaran
Jadwal pelajaran harus disusun berdasarkan kondisi psikologi peserta didik. Misalnya mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa seperti matematika ditempatkan di awal pelajaran, di mana kondisi siswa masih segar dan semangat dalam menerima materi pelajaran.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan psikologi pendidikanberperan dalam membantu guru untu merencanakan, mengatur dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Setiap ilmu pasti mempunyai manfaat dan kegunaan. Begitu juga pskologi pendidikan, tentu terdapat manfaat padanya. Beberapa tokoh telah menjelaskan mengenai manfaat psikologi ini. Menurut Lindgren sebagaimana dikutip oleh Muhibbin Syah-yang dikutip pula dari kutipan Surya-, manfaat psikologi pendidikan ialah untuk membantu para guru dan para calon guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai pendidikan dan prosesnya. Sedangkan Chaplin (1972) menintikberatkan manfaat psikologi pendidikan untuk memecahkan masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan cara menggunakan metode- metode yang disusun secara rapi dan sistematis. Hal ini tecermin dalam ungkapannya: . . . the application formalized methods for solving these problems. Tak perlu dibedakan apakah masalah-masalah psikologis yang timbul itu dari pihak guru, siswa, atau situasi mengajar-belajar yang dihadapi guru dan siswa yang bersangkutan

Setidak-tidaknya ada 10 macam kegiatan pendidikan yang banyak memerlukan prinsip-prinsip psikologis, yakni: 
1) seleksi penerimaan siswa baru; 
2) peencanaan pendidikan; 
3) penyusunan kurikulum; 
4) penelitian pendidikan; 
5) administrasi pendidikan; 
6) pemiliha materi pelajaran; 
7) interaksi mengajar-belajar; 
8) pelayanan bimbingan dan penyuluhan;
9) metodologi mengajar; 
10) pengukuran dan evaluasi. Dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut, diperlukan adanya figur-figur guru yang kompeten.
(marthayunanda)
Read more »
Pengertian Psikologi Pendidikan

Pengertian Psikologi Pendidikan

a) Psikologi 

Psikologi yang dalam istilah lama disebut ilmu jiwa itu berasal dari kata bahasa inggrispsychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa greek (Yunani), yaitu;1) psyche yang berarti jiwa ; 2) logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah psikologi memang berarti ilmu jiwa.

Alhasil, secara ringkas dapat kita tarik sebuah simpulan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan, dan kejadian yang ada di sekitar manusia.

b) Pendidikan 

Pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu kata ini mendapat awalan me sehingga menjadi “mendidik”, artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan fikiran (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991;232). Selanjutnya, pengertian “pendidikan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusiam melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

c) Psikologi Pendidikan 

Psikologi pendidikan menurut sebagian ahli adalah subdisiplin psikologi bukan psikologi itu sendiri. Mereke mengagnggap bahwa psikologi pendidikan itu tidak memiliki teori, konsep, dan metode sendiri.

Secara lebih sederhana dan praktis, Barlow (1985) mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai;..... a body of knowledge grounded in psychologycal research which provides a repertoire of resources to aid you in functioning more effectively in teaching learning process. Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu Anda melaksanakan tugas sebagai seorang guru dalam proses mengajar-belajar secara lebih efektif. Tekanan definisi ini secara lahiriah hanya berkisar pada proses interaksi anatarguru-siswa dalam kelas.

Selanjutnya, Witherington dalam bukunya Educational Psychology terjemahan M. Buchori (1978) memberi definisi psikologi pendidikan sebagai A systematic study of the process and factors involved in the educational of human being is called educational psychology, yakni bahwa psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.

Apapun yang dikemukakan oleh para ahli tentang psikologi pendidikan, dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan adalah cabang dari psikologi yang dalam penguraian dan penelitiannya lebih menekankan pada sebuah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik maupun mental, yang sangat erat hubungannya dengan masalah pendidikan terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar. (marthayunanda)

Read more »
Pengertian Media Pembelajaran

Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran Menurut Gerlach dan Elly
media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap”. 
dengan dasar pengertian tersebut, bisa dikatakan guru, buku, dan lingkungan sekolah termasuk sebagai media  dalam pembelajaran. Namun, pengertian media pada proses belajar mengajar, sering diasumsikan sebagai alat-alat grafis, fotografi, atau peralatan elektronik lainnyayang digunakan untuk menyusun kembali informasi visual ataupun verbal tentang topik pembahasan.
Sutopo (2003) mengungkapkan bahwa,
media dapat digunakan untuk bermacam-macam bidang pekerjaan, tergantung kreativitas untuk mengembangkannya. Aplikasi media dibagi menjadi beberapa kategori, di antaranya yaitu Presentasi bisnis, Pelatihan dan Pendidikan, Penyampaian Informasi, Promosi dan penjualan, Produktivitas, Teleconferencing, Film, Virtual reality,Web, Game.
Dari kegunaan dari media pengajaran di atas, yang digunakan dalam dunia pendidikan pada umumnya adalah poin kedua dan sembilan yaitu mengenai aplikasi pelatihan dan pendidikan serta aplikasi web. Tetapi sebenarnya hal ini masih bisa dikembangkan dalam bentuk bentuk yang lain dari kutipan diatas, seperti Film, Game, Teleconferencing.
Sementara itu Menurut Seels & Glasgow,
 Berdasarkan perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi dua kategori luas, yaitu media tradisional dan media teknologi mutakhir,
a. Pilihan media tradisional, yaitu:
  • Visual diam yang diproyeksikan, misal proyeksi opaque (tak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, dan film strips.
  • Visual yang tidak diproyeksikan, misal gambar, poster, foto, charts, grafik, diagram, pemaran, papan info.
  • Penyajian multimedia, misal slide plus suara (tape), multi-image.
  • Visual dinamis yang diproyeksikan, misal film, televisi, video.
  • Cetak, misal buku teks, modul, teks terprogram, workbook,majalah ilmiah/berkala, lembaran lepas (hand-out).
  •  Permainan, misal teka-teki, simulasi, permainan papan.
  •  Realia, misal model, specimen (contoh), manipulatif (peta, boneka).
b. Pilihan media teknologi mutakhir, yaitu:
  • Media berbasis telekomunikasi, misal teleconference.
  • Media berbasis mikroprosesor, misal computer-assistted instruction, permainan komputer, sistem tutor intelejen, interaktif,hypermedia, dan compact (video) disc.

Tujuan pemanfaatan media pembelajaran,
  1. Meningkatkan Motivasi tersendiri karena pembelajaran lebih menarik.
  2. Topik Pembelajaran akan lebih bermakna, sehingga lebih meningkatkan pemahaman siswa
  3. Mencegah Kebosanan karena metode pembelajaran lebih ber-varian
  4. Semakin banyak Indra siswa yang terlibat dalam pembelajaran, Menigkatkan aktivitas belajar.
  5. Pembelajaran Lebih efektif dan efisien karena akan mempermudah penyampaian informasi pada peserta didik.
Read more »
Metode Pembelajaran Everyone is Teacher Here

Metode Pembelajaran Everyone is Teacher Here

Everyone Is A Teacher Here merupakan metode dalam model pembelajaran aktif (Active Learning). Sudjana ( 1989) Menyatakan “Metode pembelajaran Everyone Is A Teacher Here adalah metode pembelajaran yang digunakan oleh pendidik dengan maksud meminta peserta didik untuk semuanya berperan menjadi narasumber terhadap semua temannya di kelas belajar”.

Adapun Langkah penerapan metode pembelajaran ini ,menurut Hisyam,
  1.  Berikan bahan bacaan dan perintahkan peserta didik untuk membaca bahan tersebut
  2.  Bagikan secarik kertas kepada seluruh peserta didik (sebagai question card)
  3.  Peserta didik diminta untuk membuat pertanyaan dari bahan tersebut dan ditulis dikertas
  4.  Peserta didikdiminta mengumpulkan pertanyaan yang ditulis
  5.  Randomisasi kertas pertanyaan tersebut, kemudian bagikan kembali kepada semua peserta didik secara acak
  6.  Mintalah peserta didik yang telah mendapatkan question card  memahamimemikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut
  7.  Panggil secara bergantian (bisa secara acak) setiap peserta didik untuk membaca pertanyaan dan jawaban masing-masing
  8.  Minta peserta didik lainnya untuk memberikan tanggapan terhadap penjelasan si presentator

Langkah diatas dapat diuraikan dengan skenario
Guru mulai untuk mempersiapkan bahan pengajaran, berupa sumber “bacaan” sesuai dengan Topik Materi yang sedang diajarkan. Sementara, Siswa  ditugaskan untuk membaca dan membuat sebuah pertanyaan dari sumber bacaan yang sedang diajarkan tersebut. 

Pertanyaan itu ditulis dalam suatu kartu yang sebelumnya telah ditulisk nomor absensi siswa yang dipersiapkan oleh guru. Setelah selesai, kartu pertanyaan (queston-card)  dikumpulkan lalu dibagikan kembali kepada siswa secara acak. Langkah berikutnya, Siswa dari masing-masing kelompok diberi tugas untuk melakukan presentasi dengan membaca pertanyaan dan menjawabnya, Peran Guru pada tahapan ini dapat mengevaluasi (memberikan penilaian).

Melalui metode ini, hasil yang diharapkan sebagai berikut,
  • Masing-masing siswa berani  berpendapat (menyatakan dengan benar) melalui jawaban atas pertanyaan yang telah dibuatnya berdasarkan sumber bacaan yang diberikan
  • Siswa mampu  mengemukakan pendapat melalui tulisan dan mempresentasikan di depan kelas
  • Siswa lain (Audience), diharapkan berani mengemukakan pendapat dan menyatakan kesalahan jawaban dari kelompok lain yang disanggah
  • keterlatihan siswa dalam menyimpulkan masalah dari sebuah masalah yang dikaji. [marthayunanda]
Read more »
Model Pembelajaran Cooperative Learning Think Pair Share

Model Pembelajaran Cooperative Learning Think Pair Share

Model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan untuk dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil. Hal ini sesuai dengan pengertian dari model pembelajaran Think-Pair-Share itu sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lie (2002:57) bahwa, 
“Think-Pair-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain”. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Lie, 2004:58, mengemukakan langkah-langkah dalam pembelajaranThink-Pair-Share yaitu:
1.    guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok,
2.    setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri,
3.    siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya,
4.    kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.

Tahap utama dalam pembelajaran Think-Pair-Share menurut Ibrahim,dkk (2006: 26-27) adalah sebagai berikut.
a.    Tahap 1 : Thinking (berpikir) 
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
b.    Tahap 2 : Pairing (Berpasangan)
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan. 
c.    Tahap 3 : Sharing (berbagi) 
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran pasangan demi pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan. 

Menurut Ibrahim, dkk. (2000:6), kelebihan metode pembelajaran Think Pair Share (TPS), diantaranya yaitu sebagai berikut.
a.    Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas. Penggunaan metode pembelajaran TPS menuntut siswa menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas atau permasalahan yang diberikan oleh guru di awal pertemuan sehingga diharapkan siswa mampu memahami materi dengan baik sebelum guru menyampaikannya pada pertemuan selanjutnya.
b.    Memperbaiki kehadiran. Tugas yang diberikan oleh guru pada setiap pertemuan selain untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran juga dimaksudkan agar siswa dapat selalu berusaha hadir pada setiap pertemuan. Sebab bagi siswa yang sekali tidak hadir maka siswa tersebut tidak mengerjakan tugas dan hal ini akanmempengaruhi hasil belajar mereka.
c.    Angka putus sekolah berkurang. Model pembelajaran TPS diharapkan dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat lebih baik daripada pembelajaran dengan model konvensional.
d.   Sikap apatis berkurang. Sebelum pembelajaran dimulai, kencenderungan siswa merasa malas karena proses belajar di kelas hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru dan menjawab semua yang ditanyakan oleh guru. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar, metode pembelajaran TPS akan lebih menarik dan tidak monoton dibandingkan metode konvensional. 
e.    Penerimaan terhadap individu lebih besar. Dalam model pembelajaran konvensional, siswa yang aktif di dalam kelas hanyalah siswa tertentu yang benar-benar rajin dan cepat dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru sedangkan siswa lain hanyalah “pendengar” materi yang disampaikan oleh guru. Dengan pembelajaran TPS hal inidapat diminimalisir sebab semua siswa akan terlibat dengan permasalahan yang diberikan oleh guru.
f.     Hasil belajar lebih mendalam. Parameter dalam PBM adalah hasil belajar yang diraih oleh siswa. Dengan pembelajaran TPS perkembangan hasil belajar siswa dapat diidentifikasi secara bertahap. Sehingga pada akhir pembelajaran hasil yang diperoleh siswa dapat lebih optimal.
g.    Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi. Sistem kerjasama yang diterapkan dalam model pembelajaran TPS menuntut siswa untuk dapat bekerja sama dalam tim, sehingga siswa dituntut untuk dapat belajar berempati, menerima pendapat orang lain atau mengakui secara sportif jika pendapatnya tidak diterima
Read more »
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Search This Blog

Arsip Blog

Topik

A-Level Bahasa Indonesia bahasa inggris Fisika ips Kelas 10 Kelas 11 Kelas 12 Kelas 4 Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9 Kimia Kurikulum Merdeka Lain-Lain Matematika PAI Peminatan Kelas X Pendidikan Penjas PKN ppt PTK Rumus Fisika Rumus Kimia Rumus Matematika SBMPTN SD Seni Budaya Simak UI SMA Study Lanjut TIK TPA Ujian Nasional

Popular Posts

  • Kalkulator Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Online
    Sistem Persamaan Linear merupakan sebuah bentuk aljabar yang bertujuan untuk mencari nilai 2 peubah dengan diketahui 2 variabel. Mungkin ban...
  • Bank Soal Matematika - Lingkaran
    Untuk para pembaca yang lagi mempelajari topik lingkaran, berikut kami akan bagikan Bank Soal tentang Lingkaran. Soal ini terdiri dari 100 L...
  • Kalkulator Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel Online
    Kali ini kita akan menyelesaikan persamaan linear 3 variabel yang terdiri dari 3 persamaan dengan kalkulator untuk mempermudah. Walaupun bis...
  • Soal Matematika Ujian Akhir Semester 2 kelas 8 Bilingual
    Berikut ini kami menyajikan soal-soal untuk persiapan ujian akhir semester 2 bagi kelas 8 khusus Bilingual. Adapun soal-soal ini sengaja kam...
  • PPT Zat, Wujud dan Perubahannya
     Di bawah ini adalah bahan ajar fisika kelas 7 tentang zat, wujud dan perubahannya.
  • 4 Rekomendasi Modul Program Linear PDF
    Program linear sederhananya bisa dikatakan sebagai bentuk model matematika untuk menentukan nilai optimum baik itu nilai maksimum ataupun ni...
  • 4 Pilihan PPT Listrik Dinamis untuk Kelas 9
     Hallo semua berikut ini kita akan berbagi tentang materi ajar fisika kelas IX mengenai Listrik Dinamis. Ada 4 powerpoint yang bisa menjadi ...

Navigasi

  • Latihan Soal Online
  • Materi Kimia
  • Materi Matematika
  • Materi Fisika
  • Fisika
  • Kimia
  • Matematika
  • SD
  • Kelas 7
  • Kelas 8
  • Kelas 9
  • Kelas 10
  • Kelas 12
  • Kelas 11
Ehcrodeh. Powered by Blogger.
Copyright © KMA. Template by : Petunjuk Onlene